logo blog

Stop Stigma Negatif Dan Termakan Pemberitaan Miring terhadap Islam!

Stop Stigma Negatif Dan Termakan Pemberitaan Miring terhadap Islam!


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzMm3hQtcEXXHqgD5K2jz9wXssEbFNPiKImP1kZUcbOSlO0Ejbz0fZrKFmT5WxalpwxyhgmVDrfZF2Evd-mnphPAs9-4CfSJYMG232BDIKZlGnwjsuAOyaAtxCuPL7fCDQRZ3LUPyjS1o/s1600/peace_16.jpg

Oleh: Sarah Adilah Wandansari
Perum Kencana Rancaekek

GEGAP gempita umat muslim di seluruh dunia menyambut hari raya idul fitri pada bulan Syawal, setelah selama 1 bulan penuh merasakan lapar dan haus serta menahan hawa nafsu di bulan Ramadhan masih terasa hingga sekarang. Menyusul dengan antusiame warga muslim khususnya di Indonesia yang melakukan mudik sebagai bagian dari rangkaian perjalanan menyambut syawal dengan mengunjungi sanak saudara di berbagai kota.

Bersamaan dengan sukacita tersebut kabar mengenai bom bunuh diri yang terjadi di madinah mencengangkan dunia. Terlebih sebelumnya sempat melanda juga di negara-negara di sekitar kawasan muslim seperti Turki, Bangladesh, dan Irak. Bom bunuh diri yang terjadi di luar masjid Nabawi yan merupakan masjid yang dibangun oleh Rasulullah SAW dan para sahabat inipun menjadi saksi kejadian tersebut.

Banyak spekulasi yang bermunculan dari kejadian ini, banyak pihak berargumen bahwa berita mengenai bom bunuh diri ini merupakan berita yang terlalu dibesar-besarkan semata. Karena jika melihat di Madinah sendiri berita tersebut tidak seheboh yang dikabarkan ke mata dunia. Bahkan umat muslim disana tidak termakan dengan spekulasi negatif dari kejadian ini dan tetap berfokus untuk menyelesaikan rangkaian ibadah sebelum bulan Ramadhan benar-benar meninggalkan mereka.

Bukan hanya di Madinah, berita mengenai teror bom bunuh diri yang terjadi beturut-turut di beberapa kawasan muslim baru baru ini , namun juga di Indonesia tepatnya di Surakarta/ Solo terjadi hal serupa. Hal ini semakin menjadikan masyarakat muslim merasakan paranoid karena dikhawatirkan bom susulan akan kembali meledak di daerah yang tidak bisa diprediksi, terlebih kejadian ini bertepatan dengan berbondong-bondongnya muslim indonesia mudik ke kampung halaman mereka.

Sebenarnya berita bom bnuh diri yang katanya adalah perbuatan teroris sendiri bukanlah hal yang baru terjadi ataupun bukan pertama kali kita dengar. Sudah terlelu banyak kejadian ini mengundang media baik media cetak atau media elektronik untuk memberitakannya. Muslim sendiri akhirnya termakan dengan berita-berita yang mendiskreditkan Islam dan orang-orang Islam sendiri. Mereka menggunjing bahwa Islam memang biang kerok dari segala kekacauan dunia yang disebabkan karena ulah bom demi bom yang pernah terjadi hampir di penjuru dunia. Setiap tahun rasanya kejadian ini tak pernah sepi dari pemberitaan selalu saja ada kejadian mengenai aksi terorisme yang mana diidentikan dengan Islam. Selalu dan selalu beritanya dialamatkan kepada Islam dan orang Islam. Seolah memang ini merupakan ajaran yang tidak bisa dilepaskan dari Islam. Tanpa melihat dan menengok lebih dalam kepada berita-berita yang hilir mudik di media cetak dan elektronik baik skala nasional atau internasional tentang status kebenaran berita tersebut atau apakah berita tersbut memang didasarkan pada kacamata fakta dan sehingga sudah pasti benar juga terbebas dari adanya “kepentingan-kepentingan politik/ pesanan-pesanan” di dalamnya.

http://2.bp.blogspot.com/-0iJlwdtOO2U/UYOMtEVCsII/AAAAAAAABdY/MpfEdkOPw_M/s320/islam+di+mataku.jpg

Sayang masyarakat muslim benar-benar sudah kehilangan daya kritisnya dalam melihat suatu fakta. Mereka lebih sibuk dengan urusan yang lain padahal urusan mengenai umat Islam adalah persoalan mereka juga, bukankah Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa (dari umatku) yang ketika bangun pagi tidak memikirkan nasib umat, maka dia bukan umatku (umat Nabi Muhammad SAW),” (HR. Ahmad).

Masyarakat muslim merasa bahwa selama kehidupan mereka tidak terancam dan mereka masih bisa hidup tenang di tempat dimana dia tinggal dia bersyukur dan berarti dia tidak perlu repot-repot untuk menganalisa permasalahan umat, sekalipun itu berkaitan dengan agamanya dan mencoreng nama agamanya maka sudah cukup ketika mereka kemudian mendengar berita negatif mengenai Islam. Dalihnya bahwa sudah ada orang yang bertugas memikirkannya.

Sungguh terlalu dangkal jika sampai saat ini masih ada yang tidak mau bahkan acuh tak acuh dengan permasalah umat sendiri. Padahal sudah jelas bahwa terorisme selama ini selalu diidentikan dengan Islam. Orang yang menggunakan jilbab dikira teroris, orang yang berjanggut juga dicurigai teroris, orang yang punya pemikiran fundamental dianggap teroris, orang yang mengkaji Islam lebih mendalam dicap teroris, orang yang mempraktikan Islam kafah juga dinobatkan sebagai bibit teroris. Pada akhirnya kita hanya akan terus menjadi kaum yang bertindak “defensif apologetik” seolah-olah memang kitalah kaum seperti yang dikabarkan di pemberitaan.

Sudah bukan lagi waktunya bagi kita untuk terus termakan berita-berita di media yang berupaya semakin mengkerdilkan peran kita di tengah masyarakat dunia. Walaupun pasti tidak semua media mengopinikan secara subjektif. Namun, Seorang muslim layaknya menggali lebih mendalam mengenai isu yang mendiskreditkan Islam dan pelakunya. janganlah kemudian ikut menyalahkan Islam serta menjadi takut untuk mempelajari Islam. Karena hal tersebut hanya akan membuat kita semakin terpecah belah dan akan terus dalam keadaan mundur.


**| republished by Lentera Kabah
Lentera Kabah

Share this:

Enter your email address to get update from ISLAM TERKINI.

Tidak ada komentar

About / Contact / Privacy Policy / Disclaimer
Copyright © 2015. Kabar Ukhuwah Islamiyah - All Rights Reserved
Template Proudly Blogger